Sunday 22 September 2013

Komunikasi Sosial Budaya Indonesia dan Karakter Warga Negara Baru Yang Pluralistik Untuk Menciptakan Iklim Kelas dan Sekolah Sebagai Laboratorium Demokratis



Komunikasi Sosial Budaya Indonesia dan Karakter Warga Negara Baru Yang Pluralistik Untuk Menciptakan Iklim Kelas dan Sekolah Sebagai Laboratorium Demokratis
A.    Konsep komunikasi sosial budaya Untuk Menciptakan Iklim Kelas Ddan Sekolah Sebagai Laboratorium Demokratis
Komunikasi Sosial adalah mengisyaratkan bahwa komunikasi penting untuk membangun konsep diri, untuk kelangsungan hidup, aktualisasi diri, untuk memperoleh kebahagiaan, terhindar dari tekanan dan ketergantungan, antara lain lewat komunikasi yang menghibur, dan memupuk hubungan dengan orang lain. Melalui komunikasi sosial kita bisa berkerja sama dengan anggota masyarakat (keluarga, kelompok belajar, perguruan tinggi, RT, RW, desa, kota, dan negara secara keseluruhan) untuk mencapai tujuan bersama.
Masyarakat Indonesia saat ini cenderung untuk sulit menerima perbedaan budaya yang ada dalam negeri tetapi mudah menerima budaya dari bangsa-bangsa asing yang mungkin kurang cocok dengan kepribadian bangsa kita sendiri. Strategi untuk menanggulangi masalah yang ditimbulkan oleh kesalahpahaman antar budaya yaitu dengan menerapkan komunikasi antar budaya.Komunikasi antar budaya adalah “komunikasi antara orang-orang yang memiliki kepercayaan, nilai, atau cara berprilaku kultural yang berbeda.”
Adapun bentuk-bentuk komunikasi budaya di Indonesia antara lain adalah sebagai berikut:
a.       Komunikasi antar budaya, misalnya antara orang berbudaya Jawa, Tionghoa, Sunda, Batak, dan Papua.
b.      Komunikasi antar ras yang berbeda, biasanya juga disebut komunikasi antar ras, misalnya antara orang ras melayu, mongolia, dan negro.
c.       Komunikasi antar kelompok etnis yang bebeda, dan biasa disebut komunikasi antar etnis misalnya etnik sunda, batak, jawa, sasak, bugis dan dayak.
d.      Komunikasi antara kelompok agama yang berbeda, misalnya Islam, Kristen, Budha, dan Hindu.
e.       Komunikasi antar bangsa yang berbeda, misalnya orang Indonesia dengan orang Amerika, Inggris, Belanda, Jerman, Cina dan lain sebagainya.
f.       Komunikasi antara subkultur yang berbeda, misalnya dokter, pengacara, guru, tukang becak dan lain sebagainya.
g.      Komunikasi antara subkultur yang eksklusif, misalnya kaum golongan homoseksual dengan kaum manula.
h.      Komunikasi antara jenis kelamin yang berbeda, misalnya antara laki-laki dengan perempuan.
Cara komunikasi antar budaya dipengaruhi oleh budayanya masing-masing. Oleh karena itu harus dapat dimanfaatkan untuk memperkaya diri dalam rangka mengenali budaya
Adapun hambatan-hambatan yang harus dihadapi dalam melaksanakan komunikasi antarsosial budaya adalah sebagai berikut.
1)      Etnosentrisme yaitu prilaku kesukuan yang sempit akan menjadi kendala dalam memahami dan melakukan komunikasi antar budaya.\
2)      Rasa kedaerahan yang berlebihan juga akan menghambat komunikasi antar budaya, dimana orang “mencintai” daerahnya secara berlebihan.
3)      Persepsi yang keliru tentang otonomi daerah yaitunya berlakunya otonomi daerah ditafsirkan oleh penguasa daerah hanya untuk memakmurkan daerahnya dan rakyat yang berada dan berasal dari daerah itu sendiri.
4)      Fanatisme sempit yaitu menganggap agama di luar yang “saya ” anut tidak baik dan kedudukannya lebih rendah.
Adapun beberapa cara untuk mengatasi hambatan tersebut adalah :
(1)   Menanamkan kesadaran bahwa Indonesia adalah bangsa yang terdiri dari berbagai golongan sosial budaya yang beraneka ragam. Dan ini adalah kekayaan bangsa Indonesia yang tak ternilai.
(2)   Meningkatkan kesadaran, walaupun kita hidup dalam keberbedaan namun kita memilki persamaan yaitu sebagai warga negara Indonesia yang memiliki kewajiban dan hak yang sama, memiliki kesamaan dalam hukum, memiliki derajat yang sama sebagai makhluk Tuhan.
(3)   Menyadari bahwa kita juga warga dari kelompok sosial budaya tertentuyaitu sebagai warga negara Indonesia bahkan warga dunia. Oleh karena itu pada hakekatnya setiap manusia adalah saudara dan keluarga dari manusia yang lain.
(4)   Mengembangkan cara berpikir positif, dan menghindari berpikir negatif. Perbedaan sosial budaya adalah kekayaan khasanah budaya bangsa Indonesia. Oleh karena itu kita harus saling mendukung, mendorong dan bahu membahu mencapai masyarakat Karakter warga negara Indonesia yang baru.

B.     Karakter WNI baru yang Pluralistic Untuk Menciptakan Iklim Kelas Ddan Sekolah Sebagai Laboratorium Demokratis
Warga negara merupakan bagian dari suatu masyarakat dan bangsa. Karakteristik suatu masyarakat dan bangsa akan diwarnai oleh karakteristk warga negaranya. Maka untuk membangun suatu masyarakat dan bangsa, terlebih dahulu harus membangun karakter warganya. Di dalam membangun warga negara Indonesia yang mampu di bertahan di era globalisasi ini maka pendidikan memiliki peran yang sanga penting sekali. Untuk itu melalui pendidikan diharapkan setiap warga Indonesia memilki kemampuan, kreatifitas, dan keterbukaan. Selain itu warga masyarakat harus terbebas dari rasa ketakutan, dan bebas berkreasi untuk menyumbangkan kemampuannya dalam pembangunan negaranya.
Menurut HAR Tilaar (1998), masyarakat yang kita cita-citakan adalah masyarakat teknologi, masyarakat terbuka, dan masyarakat madani. Masyarakat teknologi adalah suatu masyarakat yang bukan hanya melek teknologi, tetapi juga mampu berpartisipasi aktif dalam kehidupan. Masyarakat terbuka adalah masyarakat, yaitu masyarakat yang mampu menyumbangkan kemampuannya dan mampu berkreasi untuk peningkatan mutu kehidupan masyarakat dan bangsanya. Sedangkan masyarakat madani adalah masyarakat yang saling menghargai satu sama lainnya, yang mengakui hak-hak manusia yang menghormati prestasi dari para anggota sesuai dengan kemampuan yang dapat ditunjukkan bagi masyarakatnya, serta memegang teguh etika pergaulan. Untuk mencapai masyarakar yang seperti itu maka diperlukan manusia yang menghargai perbedaan dan dapat hidup dalam suatu perbedaan. Menurut Deddy Mulyana, yaitu “Manusia antar Budaya”, yaitu seorang warga negara yang mencintai sesama warga negara tanpa memandang latar belakang sosial budaya. Yang dimaksud dengan manusia antar budaya adalah manusia yang berpikir, bersikap, dan beprilaku sebagai manusia yang menghargai, menghormati dan mampu berkounikasi dengan sesamanya dan hidup damai dalam masyarakat majemuk, masyarakat yang berbhineka tunggal ika.
Manusia antarbudaya yang menjadi ciri warga Indonesia adalah tetap memilki ciri dan identitas budayanya sendiri, tetapi ia dapat hidup dan bergaul dalam masyarakat yang berbeda-beda budaya. Karakter warga negara Indonesia yaitu memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
a)      Manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa
b)      Mencintai sesama manusia, keluarga, masyarakat, manusia, bangsa dan tanah airnya
c)      Menghormati sesama warga negara tanpa membedakan latar belakang social dan budayanya.
d)     Dapat hidup bersama dalam masyarakat majemuk yang terdiri atas perbedaan      budaya, etnik, agama, istiadat, dan sebagainya.
e)      Toleransi keagamaan.
Di dalam pendidikan dikenal istilah “pendidikan pluralistik”, yaitu suatu pendekatan yang digunakan dalam pendidikan yang siswa terdiri dari beragam sosial budaya, dan hidup pada lingkungan yang terdiri dari kehidupan yang beragam pula. Pendidika pluralistik dalam pendidikan tidak bermaksud untuk menyamakan budaya yang sangat beaneka ragam melainkan untuk memberi bekal pengetahuan dan pengalaman pada siswa bahwa kita berbeda sosial dan budayanya.
Pendidikan pluralistik memiliki 2 makna. Pertama sebagai sebagai sumber yang bahan belajar di sekolah, yaitu memberikan pengetahuan tentang keaneragaman budaya Indonesia. Kedua menerapkan pendekatan pluralistik dalam proses embelajara, yaitu pendekatan yang digunakan dalam memperlakukan siswa yang terdiri atas golongan sosial budaya.
Pendidikan pluralistik dilakukan dengan 3 jalur yaitu pendidika dalam keluarga, di masyarakat dan di sekolah. Dengan kaitannya dengan ini Yose Ortega mengatakan bahwa sekolah merupakan cermin masyarakatnya, apabila rusak masyarakatnya maka rusak pulalah sekolah (Zamroni, 2001). Oleh karena itu perbaikan atau pembentukan karakter warga negara melalui pendidikan di sekolah harus diimbangi dengan pendidika di masyarakat.Materi komunikasi antar budaya ini di integrasikan dalam pelajaran PKn adapun pokok bahasannya adalah sebagai berikut  persatuan dan kesatuan, Cinta tanah air, Persamaan derajat, Persamaan hak dan kewajiban, Kerukunan, Keadilan dan Gotong royong
Dalam pembelajaran PKn ada dua strategi, yaitu pertama komunikasi sosial budaya sebagai substansi dan sumber belajar, dan kedua menggunakan pendekatan pluralistik dalam proses pembelajaran, yaitu dengan memperlakukan siswa yang berbeda latar belakang sosial budayanya dalam proses pembelajaran.
            Dalam proses pembelajaran PKn SD, sebagaiman halnya pada pembelajaran umumnya diarahkan pada aktivitas siswa (student centered) yaitu menciptakan suasana kelas yang hidup dan demokratis. Untuk mengenali ciri bahwa suasana kelas demokratis bahwa guru tidak lagi menjadi faktor  yang sangat dominan di kelas, siswa bebas mengeluarkan pendapatnya, serta adanay pembahasan isu dan masalah yang terjadi di masyarakat (controversial issues) dalam pembelajaran PKn yang terkait dengan materi komunikasi social budaya dapat dilakukan melalu dua strategi yaitu :
1.      Komunikasi Social Budaya sebagai Materi Pelajaran
Dalam proses pembelajaran siswa dilatih untuk berpikir kritis, analitik, dan demokratis sehingga mereka dapat menemukan konsep, prinsip, dan nilai, yang berkitan dengan budaya, dengan landasan kebersamaan dan persatuan. Untuk ini dapa dikembangkan berbagi teknik pembelajaran yaitu :
a.       Studi kasus
Studi kasus merupakan teknik dalam pembelajaran yang berusaha utuk mendapatkan gambaran lengkap tentang suatu kasus atau masalah, dengan menemukan factor penyebabnya dan penyimpangan dari nilai yang sesungguhnya. Dengan mempelajari ini siswa diharapkan dapat :
(a)    Memahami suatu peritiwa atau kasus sebagai suatu masalah yang perlu disikapi, sebagai masalah bersama sehingga dapat menemukan solusi yang efektif.
(b)   Menemukan manfaat bagi kehidupan selanjutnya dengan belajar dari penglaman dengan kasus
(c)    Mengidentifikasikan berbagai masalah bersama solusinya sebagai bahan untuk kasus lain yang serupa.
Untuk meningkatkan efektikfitas pelaksanaan studi kasus ini maka peran guru adalah sebagai berikut :
a)      Membuat dan menggambarkan contoh-contoh kasus, secara tertulis baik dalam lembar kertas ataupun papan tulis guru dapat membuat beberapa contoh kasus yang berbeda-beda untuk setiap kelompok siswa.
b)      Membentuk kelompok belajar yang terdiri dari 3-4 oarang siswa.
c)      Memfasilitasi dan mengarahkan diskusi siswa untuk menganalisis dan mengkaji kasus.
d)     Meminta setiapkelompok untuk untuk mempresentasikan hasil diskusi sehingga kelompok lain dapa menanggapi bertanay dan memberikan masukan.
e)      Meminta murid untuk membuat kesimpulan, memberikan komentar;
f)       Memberkan tanggapan, pendalaman, pengayaan atau pengurusan terhadap diskusi siswa.

b.      Cerita Daerah
merupakan bahan kajian yang bermanfaat untuk mengenali budaya suatu daerah. Dengan mengenali cerita atau legenda kita dapat menarik manfaat terutama melatih berfikir untuk mengenali dan menyelami nilai moral dan norma yang dimiliki dalam budya daerah. Selain itu juga juga dapat belajar dari tokoh dalam cerita bagaimana tentang bersikap, bertindak dan berperilaku dalam menghadapi situasi tertentu.sehingga dari cerita semacam itu kita dapat mengetahui : Asal muasal suatu cerita, Filsafat hidup suatu daerah, Nilai budaya daerah dan Nilai kepahlawanan

c.       cerita tentang para pahlawan
setiap daerah memiliki pahalawan masing-masing, baik pahlawan dalam tingkat lokalmaupun nasional, bahkan internasional.semua phalawan ini berjuang untuk membebaskan daerah mereka dari penjajahan. Mereka berjuang tanpa pamrih, rela berkorban bukan hanya harta dan pangkatnya tetapi juga nyawanya untuk mencapai satu tujuan yaitu kemerdekaan.
Keuntungan dari mempelajari pahlawan ini adalah siswa dapat mengenali pahlawan daerahnya dan juga pahlawan dari daerah lainnya. Meneladani kepahlawanan dari dari para pahlawan tersebut, mengambil nilai tentang usaha memperjuangkan kebersamaan,persaan derajat,persatuan dan kesatuan bangsa.

2.      Pengelolaan kelas
Untuk mempelajari dan menghayati keragaman budaya serta melatih kesadaran sikap serta perilaku suswa untuk menghargai, menghormati dan mencintai keragaman budaya dapat dilakukan melalui pengelolaan kelas yang pluralisme sehingga sebelum siswa mempelajari keragaman social budayasecara luas maka ia dapat mempelajari keragaman latar belakang budaya dari teman sekelasnya atau sekolahnya.
Pengelolaan kelas yang mencerminkan kebersamaan dan keragaman budaya ini dapat dilakukan sebagai berikut :
a.       Tempat duduk siswa diatur secara bercampur dan berganti-ganti dalam kurun waktu tertentu misalnya anak petani didekatkan dengan anak pegawai negeri, anak orang kayaditempatkan dengan siswa dari orang kebanyakan atau siswa pria ditempatkan dengan siswi wanita.
b.      Apabila ada siswa dari etnik lain, diatur penempatannyadan penugasannya agar menyatu dengan yang lain.
c.       Pembentukan kelompok belajar juga harus mencerminkan pembauran etnik atau budaya.
Perlakuan guru seperti ini adalah melatih siswa untuk bergaul dengan sesame siswa tanpa meluhat latar belakang social  budaya mereka.memberikan perlakuan seperti ini adalah dalam rangka melatih siswa untuk belajar bukan saja berkomunokasi antar budaya, tetapi juga belajar menyelami budaya, adat dan kebiasaan siswa lain yang berbeda budayanya.


                                                          



DAFTAR RUJUKAN
Asmania, Bahar. 2009. Pengetahuan kewarganegaraan. Padang : Sukabina Press.
Kaelan M.S. 2000. Pancasila dan kewarganegaraan. Yogyakarta : Kedaulatan Rakyat.
Udin S. Winataputra,dkk.2006.  Materi dan Pembelajaran PKn SD. Jakarta : Universitas Terbuka.


No comments:

Post a Comment