Wednesday 25 April 2012

Kesalahan Penggunaan Afiksasi yang Berpengaruh terhadap Tata Bahasa Siswa SD


MAKALAH
“Kesalahan Penggunaan Afiksasi yang Berpengaruh
terhadap Tata Bahasa Siswa SD”







Oleh :

NAMA     : FLORY KRESINDA SONNIE
NIM         : 1105676
SEKSI     : RM 07 BANDAR BUAT
BP            : 2011
MK           : Kajian Kebahasaan SD


PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI PADANG
2012
 
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa yang telah memberikan rahmat dan bimbingan-Nya sehingga penyusunan makalah ini dapat terselesaikan.
Selesainya penyusunan makalah ini berkat bantuan dari berbagai pihak, oleh karena itu pada kesempatan kali ini penulis ucapkan terima kasih banyak dan penghargaan kepada yang terhormat:
1.      Dosen pembimbing Nur Azmi Alwi S.S, M.Pd
2.      Orang tua yang telah mendukung penuh dalam penulisan makalah ini baik dari segi moril maupun materil
3.      Serta teman- teman seperjuangan yang penulis banggakan.
Penulis telah mencoba untuk menyajikan makalah ini dalam bentuk sesederhana mungkin. Semoga makalah ini dapat berguna bagi pembaca, sehingga dapat menambah wawasan pembaca dalam menghadapi permasalahan afiksasi pada siswa SD.
Akhir kata penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu penyelesaian makalah ini. Kritik dan saran dari semua khalayak yang telah membaca makalah ini penulis nantikan demi kemajuan dan kesempurnaan makalah ini di masa yang akan datang.


      Padang, 16 April 2012

      Penulis


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Morfologi adalah cabang linguistik yang mengidentifikasi satuan-satuan dasar bahasa sebagai satuan gramatikal. Dalam kaitannya dengan kebahasaan, yang dipelajari dalam morfologi ialah bentuk kata. Selain itu, perubahan bentuk kata dan makna (arti) yang muncul serta perubahan kelas kata yang disebabkan perubahan bentuk kata itu, juga menjadi objek pembicaraan dalam morfologi. Dengan kata lain, secara struktural objek pembicaraan dalam morfologi adalah morfem pada tingkat terendah dan kata pada tingkat tertinggi. Itulah sebabnya, dikatakan bahwa morfologi adalah ilmu yang mempelajari seluk beluk kata (struktur kata) serta pengaruh perubahan-perubahan bentuk kata terhadap makna (arti) dan kelas kata.
Di dalam tata bentukan (morfologi) bahasa indonesia, terdapat istilah morfem. Morfem adalah satuan terkecil yang memiliki makna. Berdasarkan devinisi tersebut, buku adalah morfem karena menjadi bentuk terkecil yang memiliki makna. Di pihak lain juga terdapat kata berbuku, meskipun dikatakan sebagai morfem, tapi masih dapat dipilah menjadi morfem-morfem, yaitu ber- dan buku. Ber- dikatakan sebagai morfem karena satuan terkecil ini masih memiliki arti, yaitu mempunyai. Morfem yang dapat berdiri sendiri, seperti buku, dinamakan morfem bebas, sedangkan yang melekat pada bentuk lain, seperti ber-, dinamakan morfem terikat. Contoh berbuku di atas adalah satu kata yang terdiri atas dua morfem, yakni dua satu terikat ( ber-) serta satu morfem bebas (buku).
Kata perbesar seperti contoh di atas merupakan contoh kata yang telah mengalami proses morfemis atau proses morfologis. Proses morfemis yang terjadi pada kata perbesar adalah pembubuhan depan dengan morfem terikat depan dalam bahasa Indonesia yaitu pembubuhan per- pada kata dasar besar.  Peristiwa ini merupakan sebuah proses afiksasi yang dikenal dengan prefiks. Proses afiksasi merupakan salah satu proses morfemis yang terjadi dalam tata bentukan (morfologi) bahasa Indonesia yang sering menimbulkan masalah dalam hal ketepatan penggunaannya terutama dalam kalangan siswa SD yang baru mengenal sebuah tata bahasa.
Oleh karena itu, penulis mencoba memaparkan permasalahan penggunaan afiksasi dalam makalah  yang berjudul “Kesalahan Penggunaan Afiksasi yang Berpengaruh Terhadap Tata Bahasa Siswa SD” ini.

B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas maka rumusan masalahnya adalah, sebagai berikut:
1.      Apa saja seluk beluk morfologi?
2.      Bagaimana wujud afiksasi dalam bahasa Indonesia?
3.      Apa saja permasalahan afiksasi yang terdapat pada siswa SD?
4.      Bagaimana cara mengatasi permasalahan afiksasi pada siswa SD?

C.     Tujuan penulisan
Sesuai dengan rumusan masalah di atas, maka penulisan makalah ini bertujuan untuk membantu pendidik dalam mengajarkan kepada siswanya tentang ketepatan penggunakan afiksasi dalam pembelajaran bahasa Indonesia
D.    Manfaat Penulisan
Hasil penulisan ini nantinya di harapkan dapat memberikan manfaat bagi berbagai pihak. Khususnya bagi siswa SD yang sulit untuk menempatkan afiksasi dengan benar dalam tata bahasanya serta bagi pendidik dan calon pendidik yang nantinya akan membimbing siswa dalam pembelajaran afiksasi bahasa Indonesia.






BAB II
PEMBAHASAN
A.    Seluk Beluk Morfologi
Kata Morfologi berasal dari kata morphologie. Kata morphologie berasal dari bahasa Yunani morphe yang digabungkan dengan logos. Morphe berarti bentuk dan dan logos berarti ilmu. Bunyi yang terdapat diantara morphed dan logos ialah bunyi yang biasa muncul diantara dua kata yang digabungkan. Jadi, berdasarkan makna unsur-unsur pembentukannya itu, kata morfologi berarti ilmu tentang bentuk. Dalam kaitannya dengan kebahasaan, yang dipelajari dalam morfologi ialah bentuk kata.
Dalam bahasa ada bentuk (seperti kata) yang dapat dipotong-potong menjadi bagian yang lebih kecil, yang kemudian dapat dipotong lagi menjadi bagian yang lebih kecil lagi sampai ke bentuk yang, jika dipotong lagi, tidak mempunyai makna. Kata memperbesar, misalnya, dapat kita potong sebagai berikut:
mem-perbesar
per-besar
Jika besar dipotong lagi, maka be- dan sar- masing-masing tidak mempunyai makna. Bentuk seperti mem-, per- dan besar disebut morfem. Morfem yang dapat  berdiri sendiri, seperti besar, dinamakan morfem bebas, sedangkan yang melekat pada bentuk lain, seperti mem- dan per-, dinamakan morfem terikat. Dengan batasan itu, maka sebuah morfem dapat berupa kata (seperti besar di atas), tetapi sebuah kata dapat terdiri atas satu morfem atau lebih. Contoh memperbesar di atas adalah satu kata yang terdiri atas tiga morfem, yakni dua morfem terikat mem- dan per- serta satu morfem bebas besar
Dalam tata bentuk (morfologi) bahasa indonesia terdapat proses morfologis atau proses morfemis. Proses morfemis merupakan proses pembentukan kata bermorfem jamak baik derivatif (apabila kata bermorfem jamak secara sintaksis berdistribusi dan mempunyai ekuivalen dengan semua kata bermorfem tunggal) maupun inflektif (apabila kata bermorfem jamak tidak mempunyai ekuivalen dalam distribusi sintaksis dengan sebuah kata bermorfem tunggal).
Pada umumnya proses morfemis dibedakan atas 6 macam, yaitunya sebagai berikut:
1)      Proses Afiksasi yaitu proses pembubuhan afiks pada sebuah dasar atau bentuk dasar. Dilihat dari posisi melekatnya pada bentuk dasar biasanya afiks terdiri dari prefiks, infiks, sufiks, konfiks. Seperti, prefiks me- pada kata melawan (kata dasar lawan).
2)      Proses Reduplikasi yaitu proses morfemis yang mengulang bentuk dasar, baik secara keseluruhan, seperti meja-meja, reduplikasi sebagian (parsial), seperti lelaki (dari dasar laki-laki) maupun dengan perubahan bunyi, seperi bolak-balik (dari dasar balik).
3)      Proses Komposisi yaitu proses penggabungan morfem dasar dengan morfem dasar, baik yang bebas maupun yang terikat, sehingga terbentuk sebuah konstruksi yang memiliki identitas leksikal yang berbeda atau yang baru. Seperti, lalu lintas, daya juang, dan rumah sakit.
4)      Konversi, Modifikasi Internal, dan Suplesi. Konversi adalah proses pembentukan kata dari sebuah kata menjadi kata lain tanpa perubahan unsur segmental. Modifikasi Internal adalah proses pembentukan kata dengan penambahan unsur-unsur (yang biasanya berupa vokal) ke dalam morfem yang berkerangka tetap (yang biasanya berupa konsonan). Ada jenis modifikasi internal lain yang disebut suplesi yaitu perubahannya sangat ekstrem karena cirri-ciri bentuk dasar tidak ada atau hamper tidak tampak lagi.
5)      Proses Pemedekan yaitu proses penanggalan bagian-bagian leksem atau gabungan leksem sehingga menjadi sebuah bentuk singkat, tetapi maknanya tetap sama dengan bentuk utuhnya. Hasilnya disebut kependekan. Seperti, bentuk lab (utuhnya laboratorium)
6)      Produktivitas Proses Morfemis yaitu dapat tidaknya proses pembentukan kata itu, terutama afiksasi, reduplikasi dan komposisi, digunakan berulang-ulang yang secara relative tidak terbatas; artinya, ada kemungkinan menambah bentuk baru dengan proses tersebut.

B.     Wujud Afiks dalam Bahasa Indonesia
Kata yang dibentuk dari kata lain pada umumnya mengalami tambahan bentuk pada kata dasarnya. Kata seperti bertiga, ancaman, gerigi, dan berdatangan terdiri atas kata dasar tiga, ancam, gigi, dan datang yang masing-masing dilengkapi dengan bentuk yang berwujud ber-, an-, -er-, dan ber-an. Bentuk (atau morfem) terikat yang dipakai untuk menurunkan kata dinamakan afiks atau imbuhan. Keempat bentuk terikat di atas adalah afiks atau imbuhan. Afiks yang di tempatkan di bagian muka suatu kata dasar disebut prefiks atau awalan. Bentuk atau morfem terikat seperti ber-, meng-, peng-, dan per- adalah prefiks atau awalan. Apabila morfem terikat ini digunakan di bagian belakang kata, maka namanya adalah sufiks atau akhiran. Morfem terikat seperti -an, -kan, dan -i  adalah contoh sufiks atau akhiran. Infiks atau sisipan adalah afiks yang diselipkan di tengah kata dasar. Bentuk seperti -er- dan -el- pada gerigi dan geletar adalah infiks atau sisipan.
Gabungan prefiks atau sufiks yang membentuk suatu kesatuan dinamakan konfiks. Kata berdatangan, misalnya, dibentuk dari kata dasar datang dan konfiks ber-an yang secara serentak diimbuhkan. Kita harus waspada terhadap bentuk yang mirip dengan konfiks, tetapiyang bukan konfiks karena proses penggabungannya tidak secara serentak. Kata berhalangan misalnya pertama-tama dibentuk dengan menambahkan sufiks -an pada dasar halang sehingga terbentuk kata halangan. Sesudah itu barulah prefiks ber- diimbuhkan. Jadi ber-an pada berdatangan  adalah konfiks karena afiks itu merupakan kesatuan. Tidak ada bentuk datangan. Sebaliknya, ber-an pada berhalangan bukan konfiks karena merupakan hasil proses penggabungan prefiks ber- dengan berhalangan.
C.     Analisis Kesalahan Afiksasi Siswa SD
Siswa SD adalah siswa yang baru mengenal tatanan bahasa Indonesia. Di bangku sekolah dasar, siswa tersebut mengenal tatanan bahasa indonesia yaitu berupa pelajaran penggunaan imbuhan yang mana kita kenal dalam istilah afiksasi.
Berbagai permasalahan afiksasi yang dialami siswa SD diantaranya adalah sebagai berikut:
(1)   Dalam membuat kalimat, siswa sulit untuk meletakkan afiks dengan benar.
Contoh:
Kebersihan Lingkungan
Di tempat kami tinggal setiap 1 bulan sekali  mengadai kegiatan gotong royong. Kegiatan ini diketuakan oleh pak Rt. Warga dianjurkan membawa sapu lidi dan cangkul untuk membersihkan sampah-sampah yang berada di lingkungan setempat. Dengan adanya kegiatan ini, lingkungan pun jadi bersih.
Perbaikan terhadap kesalahan afiksasi pada karangan di atas, adalah sebagai berikut:
Kebersihan Lingkungan
Di tempat kami tinggal setiap 1 bulan sekali  mengadakan kegiatan gotong royong. Kegiatan ini diketuai oleh pak Rt. Warga dianjurkan membawa sapu lidi dan cangkul untuk membersihkan sampah-sampah yang berada di lingkungan setempat. Dengan adanya kegiatan ini, lingkungan pun menjadi bersih.

(2)   Dalam proses afiksasi, siswa sulit membedakan bentuk dasar yang harus luluh dengan yang tidak luluh
Contoh:
1.      Ibu guru merubah denah tempat duduk kami.
2.      Pada saat ujian, seluruh siswa dilarang menyontoh.
3.      Lintah darat itu mensita semua harta benda kami.

Perbaikan prefiks dari contoh di atas adalah:
1)      Ibu guru mengubah denah tempat duduk kami.
2)      Pada saat ujian, seluruh siswa dilarang mencontoh.
3)      Lintah darat itu menyita semua harta benda kami.

(3)   Siswa sulit untuk membedakan di- sebagai prefiks dengan di- sebagai preposisi
Contoh:
1.      Kursi itu di beli ayah.
2.      Aku tinggal dirumah nenek.
3.      Kakak di pukul adik.

Perbaikan prefiks dari contoh di atas adalah:
1)      Kursi itu dibeli ayah
2)      Aku tinggal di rumah nenek
3)      Kakak dipukul adik.


D.    Penyebab Kesalahan Afiksasi Siswa SD
Bahasa merupakan alat komunikasi yang terpenting dalam kehidupan manusia, dengan bahasa juga dapat saling bertukar pikiran, gagasan,  pengetahuan serta dapat menjalin hubungan dengan baik. Dengan bahasa pula cara hidup dan berfikir manusia dapat dipengaruhi, untuk itu bahasa adalah alat untuk mengenal dunia.
Dalam belajar bahasa, siswa mengembangkan kemampuannya untuk memahami dan memproduksi bahasa. Pengembangan tersebut meliputi belajar menyusun bahasa dan penggunaannya dalam berkomunikasi. Kemampuan berbahasa anak bervariasi. Pada umumnya anak yang memiliki kemampuan berbahasa yang baik yang diperoleh dari kebiasaan komunikasinya dengan menggunakan bahasa sehari-hari mereka. Anak yang kacau kemampuan berbahasanya atau perkembangan bahasanya belum sampai pada tingkat kebahasaan yang digunakan dalam bacaan dimungkinkan akan mengalami kesulitan dalam menggunakan tata bahasa yang benar. Faktor-faktor yang mungkin menyebabkan kegagalan siswa dalam belajar, terutama pada kesalahan penggunaan afiksasi yaitu sebagai berikut:
1.      Adanya kebiasaan menyepelekan afiksasi bahasa Indonesia
Misalnya, kesalahan penulisan prefiks di-. Pemasalahannya adalah siswa tidak dapat membedakan mana prefiks di- yang harus digabung dengan kata dasar serta prefiks di- yang harus dipisah dengan kata dasar. Pengalaman selama ini menunjukkan bahwa kemampuan peserta didik dalam penulisan afiksasi amat lemah, terutama pada siswa sekolah dasar. Hal semacam ini dikarenakan pengetahuan dalam menulis masih kurang, ataupun pembelajaran yang didapatkan belum maksimal atau mencapai tujuan, dan dampaknya adalah adanya kebiasaan menyepelekan afiksasi yang tepat dalam menulis. Hal ini seiring dengan kurangnya pengetahuan siswa tentang aturan penggunaan afiks tersebut.
2.      Kurang efektifnya cara pembelajaran yang dipakai
Pada umumnya siswa sekolah dasar belum menguasai tata bahasa Indonesia secara sempurna, padahal usia mereka sudah berada di ambang pintu berakhirnya masa paling peka di dalam proses pemerolehan bahasa. Jika ternyata benar bahwa penguasaan bahasa Indonesia siswa Sekolah Dasar memang seperti itu keadaannya, ini berarti bahwa akan semakin lebih sulit lagi pada tahun-tahun berikutnya bagi para pendidik untuk membenahi kemampuan berbahasa Indonesia siswa-siswa lulusan Sekolah Dasar
Jadi,  kemampuan menggunakan afiks yang benar, dirasa kurang memadai bagi para siswa SD. Pembelajaran afiksasi di SD tersebut masih kurang, bukan karena kemampuan anak-anak SD tersebut, melainkan cara pembelajaran bahasanya yang perlu kita tinjau kembali, sebab peranan guru dan anak sangat berpengaruh dalam proses pembelajaran bahasa.
3.      Kebiasaan menggunakan afiksasi yang salah dalam kehidupan sehari-hari
Anak yang kacau kemampuan berbahasanya atau perkembangan bahasanya yang disebabkan pengaruh kehidupan sehari-harinya dimungkinkan akan mengalami kesulitan dalam menggunakan tata bahasa yang baik. Salah satu contoh kata yang sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari adalah mencuci. Mencuci adalah kata dasar cuci yang mengalami proses afiksasi yaitu prefiks me-.
Benar
Salah
Mencuci
menyuci
Jika dilakukan perbandingan penggunaan antara kata mencuci dengan menyuci, maka menyuci adalah kata yang lebih dominan digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini disebabkan karena menyuci lebih mudah untuk diucapkan dibandingkan kata mencuci. Lambat laun, hal ini telah menjadi kebiasaan dalam kehidupan, bahkan hal ini juga dialami siswa SD dalam penulisan kalimat. Fakta ini beranjak dari kebiasaan pengucapan dan berakhir pada kebiasaan penulisan.
4.      Siswa kurang memahami makna dari setiap variasi afiks.
Hal ini disebabkan karena siswa itu tidak mengetahui setiap makna dari afiks yang digunakan. Dalam pengamatan terdapat beberapa kesalahan berbahasa siswa usia sekolah dasar pada taraf morfologi. Kesalahan berbahasa tersebut di antaranya berupa penggunaan afiks meng-i dan meng-kan. Misalnya, Di tempat kami tinggal setiap 1 bulan sekali  mengadai kegiatan gotong royong. Penggunaan imbuhan meng-i pada kata mengadai seharusnya mengadakan karena maksud kata itu adalah ‘membuat jadi ada’. Jika digunakan konfiks meng- kan yang memiliki makna ‘membuat jadi atau menganggap sebagai apa yang disebut kata dasarnya (ada)’

E.     Cara Mengatasi Kesalahan Afiksasi Siswa SD
Dalam kegiatan kebahasaan, yang menjadi permasalahan bukan saja hal-hal yang berhubungan dengan aspek menulis tapi juga berhubungan dengan aspek berbicara. Oleh karena itu dalam makalah ini, penulis memaparkan berbagai cara mengatasi kesalahan afiksasi yaitunya dimulai dari aspek berbicara dan diakhiri dengan aspek menulis.
1)      Dalam memberikan pembelajaran, guru harus menggunakan kalimat dengan afiksasi yang benar
Berbicara adalah suatu hal yang mutlak dilakukan oleh setiap orang dalam kehidupan. Aspek berbicara  adalah hal yang paling sulit untuk mengatasi permasalahan afiksasi. Hal ini disebabkan karena afiksasi adalah suatu proses pembentukan kata yang mengutamakan struktur kata. Walaupun demikian, aspek berbicara tetap berperan dalam hal mengatasi permasalahan afiksasi karena semua kesalahan afiksasi itu dimulai dari kesalahan berbicara (pengucapan) dan diakhiri oleh kesalahan penulisan.
Cara mengatasi masalah afiksasi melalui aspek berbicara adalah pendidik harus mengarahkan siswa untuk berbicara dengan senantiasa menggunakan kata-kata yang sesuai dengan afiksasi yang benar. Misalnya, dalam berbicara dengan siswa, pendidik harus menggunakan afiksasi yang benar. Guru adalah model, apabila guru berbuat benar maka siswa juga mendapatkan sebuah kebenaran dan sebaliknya apabila guru berbuat salah maka siswa juga akan mengalami kesalahan sebab siswa SD adalah anak yang suka meniru, mereka cendrung meniru kebiasaan gurunya yang telah menjadi model dalam kehidupannya.
Contoh kecil dari kata yang dapat digunakan oleh guru dalam proses pembelajaran afiksasi agar siswa senantiasa dapat secara tepat menggunakan afiksasi itu adalah kata ‘mencontoh’ bukan ‘menyontoh’. Guru dapat membiasakan menerapkan ketepatan afiksasi mencontoh itu dalam kegiatan pembelajaran. Seperti, ketika akan ujian guru dapat mengatakan kepada siswanya ‘jangan mencontoh saat ujian’.
2)      Guru sebaiknya memberikan pembelajaran yang efektif
Memberikan pelajaran afiksasi tidaklah semudah yang dipikirkan. Apabila afiksasi salah, maka kalimat yang dibuatpun tidak akan sempurna karena hal ini menyebabkan tata bahasa yang digunakan menjadi kacau. Guru sebagai pendidik amatlah berperan penting dalam mengatasi masalah kesalahan afiksasi pada peserta didiknya. Guru hendaknya memberikan cara pembelajaran yang efektif dalam bahasa Indonesia sehingga kesalahan tata bahasa Indonesia terutama afiksasi dapat diminimalisir. Pembelajaran afiksasi yang efektif yang dapat membantu tata bahasa afiksasi  siswa SD adalah:
a)      Guru dapat membiasakan pengajaran memahami makna dari setiap afiksasi yang digunakan.
            Dengan mengetahui makna setiap afiksasi tersebut, maka siswa akan lebih mudah mencocokan afiksasi yang benar dalam penulisan kalimat.
Contoh:
Ø  Karena ibu akan ulang tahun, adik memesankan ibu baju baru di Butik Flory.
Ø  Karena ibu akan ulang tahun, adik memesan ibu baju baru di Butik Flory.

Berdasarkan contoh di atas, kata ‘memesankan’ lebih tepat digunakan dibandingkan dengan ‘memesan’. Karena makna kata memesan, lebih mudah dimengerti dan cocok dengan maksud dari kalimat tersebut. Jika menggunakan kata memesan yang bermakna melakukan pekerjaan pesan. Kata tersebut tidaklah cocok, yang mengakibatkan makna dari kalimat tersebut tidak dapat disampaikan secara tepat. Tapi jika kata yang digunakan adalah memesankan  yang bermakna melakukan pekerjaan pesan untuk orang lain, hal ini amat cocok dan tepat karena sesuai dengan topik pembicaraan dari kalimat tersebut yaitu Adik melakukan pekerjaan pesan baju untuk ibu di Butik Flory.
Misalnya, table di bawah ini dapat membantu guru dalam mengajarkan makna setiap variasi afiksasi yang ada dalam strukur kebahasaan.
Afiks
Makna
Contoh
Prefiks me-
Menghasilkan sesuatu
Menyayur, menyambal

Melakukan pekerjaan
Menulis, mendengar

Melakukan pekerjaan dengan alat
Mencangkul, menyapu

Memberi atau membubuhi
Mengapur, menambal

Mengeluarkan bunyi
Mendesis, mengeong

Mengeluarkan atau menampilkan
Menari, melompat
Sisipan -el-
Menyatakan banyak
Geletar

Menyatakan alat
Telunjuk

Pelaku pekerjaan
Pelatuk

Menyatakan berulang-ulang
Jelajah
Sufiks –an
Benda/alat
Ayunan

Melakukan kegiatan
Latihan

Tempat
Lapangan

Yang di...
Tulisan
Konfiks meng-kan
sesuatu tindakan
Mengadakan

Sesuatu menjadi..
Membetulkan

Membawa ke tempat..
Memejahijaukan


b)      Dalam memberikan pelajaran afiksasi, sebaiknya guru memaparkan afiksasi yang salah dengan afiksasi yang benar secara berbarengan serta aturan penulisannya.
Hal ini dengan mudah dapat membantu siswa SD untuk mengetahui kesalahan penggunaan afiks.
Ø  Bentuk dasar luluh dan tidak luluh
Contoh:
Afiks+bentuk dasar
Afiksasi salah
Afiksasi yang benar
Me+susup
Mensusup
Menyusup
Me+karang
Menkarang
Mengarang
Me+cubit
Menyubit
Mencubit
Me+syukur
Mensyukuri
Menyukuri

Dari contoh diatas, guru dapat memberikan penjelasan tentang aturan dari proses peluluhan sehingga siswa lebih mengerti tentang struktur afiksasi itu. Seperti,
§  Huruf fonim k, p, t, dan s diawal bentuk dasar luluh sehingga yang terjadi adalah urutan bentuk: meng-, mem-, men-, dan meny-.
§  Huruf c dan sy di awal bentuk dasar tidak luluh. Bentuk penulisannya menjadi: menc- dan mensy-.

Ø  Digabung atau tidak digabungnya prefiks di- dengan kata dasarnya
Contoh:
di-+bentuk dasar
Bentuk yang salah
Bentuk yang benar
di+beli
di beli
dibeli
di+pukul
di pukul
dipukul
di+meja
Dimeja
di meja
di+rumah
Dirumah
di rumah
Untuk membantu siswa lebih memahami tentang struktur penggunaan afiks di-, maka guru dapat memaparkan tentang aturan penggunaan afiks di- tersebut yaitunya: jika di- diikuti dengan kata yang menunjukan tempat, maka penulisannya harus dipisahkan.
     Dengan cara di atas, maka guru dengan mudah dapat membantu siswa dalam memahami pelajaran afiksasi dan siswa dapat lebih mengerti tentang penggunaan afiksasi yang benar.

3)      Guru harus sering memberikan latihan, pekerjaan rumah bahkan remedi pada siswa
            Hal ini dilakukan agar siswa SD dapat benar-benar memahami pembelajaran afiksasi sehingga dalam setiap penulisan kata-kata ataupun kalimat, siswa tersebut dapat menampilkan kalimat dengan afiksasi yang benar sehingga kalimat yang dibuat oleh siswa SD tersebut tidak kacau atau rancu lagi serta siswa SD tersebut tidak akan menyepelekan afiksasi bahasa Indonesia lagi.

            Afiksasi merupakan imbuhan yang mana afiksasi ini sering digunakan dalam setiap pembelajaran bahasa maupun pembelajaran lainnya yang berhubungan denga kata ataupun kalimat. Ketidaktepatan penggunaan afiksasi adalah salah satu dari sekian banyak contoh fenomena kesalahan tata bahasa Indonesia yang sering ditemukan dikalangan siswa SD bahkan sampai ke perguruan tinggi. Jadi, setiap permasalahan afiksasi di SD haruslah diselesaikan dengan cara yang tepat agar kesalahan tersebut tidak berlanjut di masa yang akan datang.




















BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Proses afiksasi adalah salah satu proses morfemis yang sering menjadi permasalah dalam penulisan kalimat bagi siswa SD. Misalnya, kesalahan penggunaan prefiks di-, kesalahan peluluhan dan kesalahan bentuk afiksasi lainnya. Hal ini disebabkan karena adanya suatu bentuk penyepelean  afiksasi pada siswa SD. Hal ini mereka lakukan karena adanya anggapan bahwa ‘afiksasi itu mudah’. Secara kasat mata, anggapan ini memang benar. Tapi, jika benar-benar diperhatikan, afiksasi itu amatlah sulit karena harus diperhatikan dengan teliti dan dipahami dengan cermat. Seperti, jika rumah diberi prefiks di- maka akan menjadi di rumah bukanlah dirumah. Yang membedakan kedua kata tersebut adalah prefiks di- digabung dan tidak digabung dengan kata dasarnya. Hal ini terjadi karena adanya aturan tata bahasa prefiks di- yaitunya jika kata dasarnya menunjukan tempat maka prefiks di- dipisahkan dengan kata dasarnya. Permasalahan afiksasi lainnya adalah pada kata yang harus luluh dan tidak luluh ketika diberi afiksasi. Misalnya, kata me+sapu akan berubah menjadi menyapu. Dalam kata tersebut tampak peluluhan huruf s yang menyebabkan prefiks me­- menjadi meny-.
Menulis kalimat itu memanglah perkara mudah, tapi ketika berbicara tentang penggunaan afiksasi yang benar, ini amatlah sulit karena tidak adanya pengetahuan yang mendalam tentang afiksasi tersebut. Oleh karena itu sebaiknya para pendidik sebagai pemberi wawasan, hendaklah cermat dalam memberi pelajaran mengenai afiksasi tersebut sehingga tidak terjadi lagi  kesalahan penggunaan afiksasi pada siswa SD tersebut.

B.     Saran
Permasalahan ketidaktepatan penggunaan afiksasi ini tidak hanya akan dihadapi pada jenjang sekolah dasar saja. Pada jenjang sekolah menengah dan perguruan tinggipun, kesalahan penggunaan afiksasi masih sering ditemukan.  Jadi, ketika jenjang sekolah dasar sebaiknya pendidik memperhatikan dan mengatasi hal ini dengan serius sehingga kesalahan afiksasi dapat diminimalisir pada jenjang pendidikan berikutnya.










No comments:

Post a Comment